Menyelamatkan Paphiopedilum javanicum, Anggrek Kasut Jawa yang terancam di ketinggian.

Status anggrek di Indonesia

Anggrek, keluarga Orchidaceae adalah salah salah satu tanaman berbunga dengan jenis terbanyak dan tersebar luas ke seluruh pelosok dunia. Sampai saat ini masih banyak temuan baru kemungkinan besar masih banyak spesies yang belum terdata. Di Indonesia sendiri, temuan paling baru berasal dari kawasan Indonesia timur, di Pulau Sulawesi yaitu Eulophia lagaligo, dan Dendrobium nagataksaka. Sebelumnya, di Pulau Jawa juga ditemukan Anggrek Hantu, Gastrodia bambu

Sebenarnya Indonesia memiliki kekayaan keragaman anggrek spesies yang sangat tinggi. Lebih dari 5.000 spesies dari empat puluhan ribu anggrek dunia tersebar di kepulauan Indonesia. Masih besar kemungkinan jumlah anggrek spesies di Indonesia akan bertambah, mengingat masih banyaknya wilayah hutan belantara Indonesia yang belum tereksplorasi. Namun, ancaman hilangnya spesies anggrek Indonesia juga tinggi karena meningkatnya ancaman fragmentasi dan degradasi hutan Indonesia serta perburuan untuk komoditi perdagangan..

Pada 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merilis daftar flora dan fauna yang dilindungi di Indonesia dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018. Sebanyak 28 anggrek spesies Indonesia masuk ke dalamnya. Sayangnya, masih terdapat spesies anggrek yang tidak masuk ke dalam daftar tersebut, akan tetapi masuk ke dalam kategori yang mengkhawatirkan pada situs IUCN Redlist (International Union for Conservation of Nature). Perlu diketahui, IUCN Redlist merupakan salah satu acuan dunia internasional untuk mengetahui status lengkap dari suatu spesies, baik itu flora atau pun fauna. Salah satu spesies anggrek terancam yang tidak masuk adalah Anggrek Kasut Jawa (Paphiopedilum javanicum).

Kasut Jawa yang terancam

Tim Tanah Tinggi pertama menjumpai Anggrek Kasut Jawa (Paphiopedilum javanicum) pada 2014 ketika melakukan survey sosial budaya di Desa Genilangit, Gunung Lawu. Belum lama tim kami berpapasan dengan warga yang keluar dari kawasan hutan di Gunung Lawu yang membawa anggrek ini. Dari perbincangan singkat, kami tahu bahwa anggrek tersebut adalah pesanan dari warga perkotaan. Anggrek ini hanya dihargai kurang dari Rp. 50.000,00. Kami sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana tidak, anggrek dengan status endangered atau terancam punah ini dihargai dengan rupiah yang sangat murah. Padahal jika perburuan liar anggrek terus dilakukan, maka akan mengancam keberadaannya di alam yang berimbas pada ketidakseimbangan ekosistem. Karena setiap bagian dari ekosistem pastinya memiliki peran di habitatnya, tak terkecuali Paphiopedilum javanicum.

Paphiopedilum javanicum memiliki bunga yang unik dengan organ yang menyerupai kantung dan memiliki warna yang sangat eksotis sehingga banyak dijadikan tanaman hias dan koleksi. Merujuk pada IUCN Redlist, habitat Paphiopedilum javanicum berada pada kawasan dengan ketinggian 750-2100 meter diatas permukaan laut dan tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Borneo, Bali dan Flores. Namun, di Sumatera sudah sulit dijumpai dan di Bali dikahawatirkan sudah punah di alam. Masih merujuk dari IUCN Redlist, anggrek Paphiopedilum javanicum masuk dalam kategori endangered, artinya anggrek ini dalam status berbahaya karena populasinya yang terus menurun. Hal ini dikarenakan kerusakan habitat dan juga perburuan liar anggrek yang semakin meluas akibat tingginya permintaan oleh masyarakat. 

Bagaimana cara menyelamatkannya

Kami tidak ingin melihat bunga cantik ini punah di alam. Dan tentu saya kalian juga tidak ingin kekayaan flora Indonesia menurun. Untuk itu sangat penting untuk pertama menyadarkan dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya mempertahankan keberadaan anggrek ini di alam. Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan adalah garda depan dalam menyelamatkan anggrek ini. Untuk dapat mengedukasi masyarakat, kami memerlukan banyak informasi terlebih dahulu.

Informasi utama yang diperlukan adalah tentang habitat dan juga cara hidup dari anggrek ini. Saat ini informasi tersebut masih sangat terbatas. Berdasarkan beberapa hal tersebut, Tim Tanah Tinggi akan mengadakan penelitian mengenai anggrek ini dan juga habitatnya di Gunung Lawu. Ada beberapa data yang perlu kami kumpulkan, antara lain 1) data jumlah populasi dan sebaran anggrek ini di Gunung Lawu. Ini penting agar kita dapat menentukan prioritas habitat yang perlu dipertahankan. 2) karakteristik dan kondisi habitatnya di Gunung Lawu (ini juga diperlukan apabila kedepan kita memerlukan perbaikan habitat, kita dapat tahu kondisi semacam apa yang baik untuk pertumbuhan anggreek ini). 

Saat ini penelitian kami didanai oleh Mohamed bin Zayed Foundation, lembaga yang memiliki visi yang sama dengan kami untuk menyelamatkan species terancam di dunia. Data yang kami kumpulkan selain sebagai dasar sains untuk mengembangkan program konservasi juga akan kami gunakan untuk mengedukasi dan menyadarkan komunitas lokal di sekitar Gunung Lawu agar dapat ikut menjaga kekayaan hayati anggrek yang terancam ini. Diharapkan dengan adanya pemahaman dan kerjasama berbagai pihak, akan mendukung eksistensi Paphiopedilum javanicum di alam sehingga kestabilan ekosistem pegunungan tetap terjaga. (Arif/Nope)

*Foto by: Gilang Dwi Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *