Diskusi Komunitas: Suara Pendaki di Kaki Gn. Lawu

Sudah sejak Februari lalu kami mulai berkunjung ke pengelola pendakian Gn. Lawu. Kami bertemu Pak Marwoto dan jajarannya di BKPH Lawu Selatan yang mengelola lebih dari 5.000 hektar lahan hutan di Lawu. Lalu ngobrol dengan Pak Parman dan Mas Ikhsan yang sehari-hari menjaga loket basecamp Cemoro Sewu dibantu oleh para relawan. Kami berdiskusi tentang pendakian dan sampah, tentang hutan dan masyarakat, kami bertukar pikiran tentang bagaimana bisa melestarikan Gn. Lawu. Dalam perjalanan survei kami, kami bertemu dengan Upuk Hikers, sebuah komunitas pendaki di Karanganyar yang waktu itu sedang memungut sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki di Bukit Mongkrang. Bukit yang sedang naik daun sejak awal tahun 2019.

Foto: Bungkus snack yang sering dijumpai di sepanjang jalur pendakian Cemoro Sewu

Yang kami keluhkan sama, susahnya mengelola sampah di gunung karena masih banyaknya pendaki yang pemahamannya tentang sampah di gunung masih harus ditingkatkan. Satu hal yang dapat dilakukan yaitu arus informasi dan edukasi positif tentang pengelolaan sampah di gunung harus diperkuat dan diperluas agar dapat menjangkau lebih banyak pendaki. Pendaki harus mau dan bisa saling berbagi ilmu dan pengetahuan kepada sesama pendaki. Dan kami masih sangat yakin edukasi adalah solusi fundamental yang efektif dan pendaki pasti terbuka untuk diajak sama-sama melestarikan gunung yang didakinya.

Untuk itu pada akhir April, 2019, kami menginisiasi kegiatan diskusi komunitas bernama SRAWUNG, yang merupakan singkatan dari Sharing Wawasan Gunung bersama kawan-kawan dari Gopala Valentara (PMPA FH UNS). Di luar dugaan kami, dari target awal mengadakan diskusi kecil untuk 10-15 orang, SRAWUNG pertama waktu itu di datangi oleh sekitar 40 pendaki yang berasal dari Sragen, Solo, Karanganyar, Jogja dan juga Sukoharjo. Untung saja Gudang Sekarpace yang sangat mendukung gerakan positif seperti ini memiliki space ruangan yang cukup luas. Ada 3 poin utama yang kami diskusikan saat itu yaitu 1) penyebab masalah dan sumber sampah di gunung yang susah untuk diselesaikan, 2) tips agar seorang pendaki dapat mengurangi dan menangani sampahnya sendiri dengan baik dan terakhir 3) rekomendasi yang bisa kita usulkan untuk mengatasi masalah sampah digunung secara kolektif di tingkat komunitas, masyarakat dan pengelola.

Foto: Kegiatan small group discussion dimana peserta mendiskusikan tentang cara pendaki mengelola sampah pribadi

Acara ini semata kami inisiasi sebagai bentuk usaha edukasi dan sebagai wadah pendaki baik perseorangan maupun yang tergabung dalam komunitas untuk dapat berbagi ilmu, berbagi opini dan juga berbagi solusi untuk masalah yang semua pendaki keluhkan, sampah di gunung. Opini yang dikumpulkan dalam acara ini harapannya dapat disebarluaskan kepada pendaki lain yang belum sempat datang di acara tersebut dan juga disalurkan ke pemangku kepentingan terkait. Salah satu luaran dari kegiatan ini adalah infografis yang berisi hasil diskusi peserta tentang tips mencegah dan mengelola sampah pendakian.

Foto: Infografis tentang isu sampah yang didiskusikan oleh komunitas pendaki Solo Raya

Kami melihat antusias yang besar dimata para pendaki ketika membicarakan tentang pelestarian gunung. Selain sampah, banyak juga yang sangat tertarik tentang isu keselamatan hutan dan juga satwa liar yang berada di gunung. Kami rasa pengetahuan dasar pendakian tidak hanya terbatas dengan manajemen perbekalan dan survival, tapi juga meliputi pengetahuan yang komprehensif tentang dasar ekosistem gunung (hutan dan satwa liar) dan juga tentang pengelolaan sampah. Mimpi besar kami dari kegiatan edukasi ini adalah melihat para pendaki dapat melakukan kegiatan pendakian yang tidak sekedar aman dan menyenangkan untuk diri sendiri namun juga bernilai positif untuk lingkungan dan masyarakat sekitar. (Rdwn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *